Deny Rochman

Deny Rochman bukanlah anak seorang penulis. Era reformasi 1998 telah mengubah talenta hidupnya. Ia mulai banyak menulis di media massa. Ada tuntutan moral sebag...

Selengkapnya
SEKOLAH NEGERI FAVORIT BUBAR ?

SEKOLAH NEGERI FAVORIT BUBAR ?

Oleh:

Deny Rochman

Apakah ini akhir kisah sekolah negeri favorit ? Sekolah yang selama ini menjadi dambaan banyak orang tua menyekolahkan anaknya. Sekolah kumpulan anak-anak pintar berprestasi. Sekolah orang-orang kaum berada. Prestis, prestasi dan bangga bagi anak maupun orang tuanya. Kepala sekolah dan guru-gurunya pun ikut merasakan nikmatnya memimpin dan mengajar di sekolah katanya favorit.

Mulai tahun 2018, bahkan setahun sebelumnya pencitraan sekolah negeri favorit di Kota Cirebon mulai tergusur. Penyebabnya sistem zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) telah menghancurkan pola pikir masyarakat bertahun-tahun. Melalui kebijakan baru era Mendikbud Muhajir Effendi, sekolah negeri di tempatkan pada posisi yang sama.

Lahirnya sistem zonasi pada tahun 2017 di kota ini telah menggeser dominasi sekolah-sekolah negeri papan atas. Dilihat dari passing grade maupun jumlah pemenuhan kuota peserta didik baru, sekolah dipusat kota berjalan cukup lamban. Malah ada sekolah pinggiran menempatkan diri sebagai sekolah pertama yang lebih cepat terpenuhinya kuota siswa baru dengan nilai passing grade yang naik signifikan.

Lahirnya PPDB zonasi 2017 lalu sungguh membatasi banyak pihak. Pihak-pihak yang sangat berkepentingan menyekolahkan anak dan atau saudaranya bahkan titipannya di sekolah impian. Ketegaran pihak Disdik kala itu membuat para pemain lama jasa titip menitip kelimpungan. Walau akhirnya pendekatan politik meruntuhkan pertahanan Disdik.

Kisruh PPDB di kota ini sudah menjadi musiman tahunan sebelum 2017. Efeknya tak hanya sekolah negeri "pinggiran" yang tak beruntung kuota kelasnya terpenuhi layak. Sekolah-sekolah swasta banyak yang menjerit kekurangan bahkan tak kebagian siswa baru. Walau jeritan itu bagai teriaka dipadang pasir.

Pola zonasi tahun lalu menggiring siswa sekolah terdekat dengan tempat tinggalnya (sistem rayon). Tentu sekolah-sekolah yang terletak di pemukiman masyarakat menengah ke atas cukup diuntungkan. Sebaliknya sekolah yang zonasinya berada dipemukiman rakyat lemah (dhuafa) dan terlemahkan (mustadh'afin) terasa tertimpa musibah. Ada stigma liar bahwa anak nakal itu dari keluarga tak mampu.

Efek zonasi memunculkan wajah sekolah negeri hampir sama. Sama sarana prasarananya, sama kualitas gurunya. Bahkan sama kuantitas dan kualitas siswanya. Baik siswa dari kalangan orang yang lemah dan terlemahkan. Siswa berprestasi hingga siswa nakal bermasalah akan dijumpai semua sekolah negeri.

Dengan sistem baru PPDB, tampaknya akan ada peta baru lahirnya sekolah-sekolah negeri favorit. Kendati istilah favorit tak memiliki referensi hukum yang memadai dalam peraturan pendidikan. Karena predikat itu lahir dari pencitraan yang dibangun oleh masyarakat. Celakanya, pemerintah malah ikut latah dengan perlakuan yang berbeda antara satu sekolah dengan sekolah negeri lainnya.

Sekolah negeri favorit identik dengan sekolah sarat prestasi. Bangunannya mentereng dengan sarana memadai. Gaya anak-anaknya ngetren dan ngepop. Lokasi sekolahnya mudah dijangkau kendaraan. Dan banyak lagi indikator yang disusun sendiri oleh masyarakat. Sekalipun sekolah itu berbiaya tak kecil bagi siswa di sana.

Masyarakat menengah ke atas biasanya memiliki selera tinggi menyekolahkan anaknya. Maka sekolah-sekolah di kenal papan atas selama ini menjadi buruan mereka. Ada juga orang tua yang ganjen tak tahu diri. Kemampuan anaknya pas-pasan namun tetap ngotot ingin masuk sekolah favorit. Akibat adanya permintaan tersebut memicu lahirnya penawaran jasa penyaluran siswa baru.

Dengan pola zonasi jilid 1, semua orang tua wajib taat aturan. Pemerintah ingin menegaskan bahwa semua sekolah negeri adalah sama. Sama sarananya, gurunya, pelayanannya, dananya dan kualitas lainnya. Beruntung sekolah-sekolah negeri yang berada di basis rumah penduduk kelas menengah ke atas. Sekolah ini akan kebanjiran siswa terpilih.

Kini sistem zonasi masuk jilid 2. Jika dulu zonasi dipetakan per kelurahan hingga RT RW, tidak demikian pada zonasi jilid 2. Zonasi jaman now lebih mengukur jarak sekolah dari tempat tinggal calon siswa baru berbasis google map. Artinya siswa diberi kebebasan memilih sekolah impiannya tanpa harus terkotak-kotak dalam sistem zonasi rayon.

Sistem baru juga memberikan peluang kepada siswa luar kota Cirebon untuk mendaftar. Pendaftaran pun dipecah menjadi tiga jalur. Dalam website resminya Dinas Pendidikan Kota Cirebon menyebutkan bahwa dengan sistem zonasi daring (online) dan luring (offline) dibagi menjadi 3 jalur.

Tiga jalur tersebut yaitu Zonasi, Prestasi, dan Bencana Sosial dan anak guru, dengan berdasar pada aspek jarak tempat tinggal ke sekolah; usia calon peserta didik baru; dan nilai SHUSBN. Pendaftaran PPDB dimulai 25 Juni melalui jalur prestasi. Jalur lainnya dimulai 2 Juli 2018.

Jalur zonasi 90% dengan menggunakan zonasi/radius terdekat dari tempat domisili ke sekolah tujuan. Sementara jalur prestasi hanya 5% terdiri akademik dan non Akademik. Sedangkan jalur perpindahan domisili, bencana dan anak guru sebesar 5%. .

Penyebaran 90% zonasi meliputi 60% menggunakan zonasi/radius terdekat dari tempat domisili ke sekolah tujuan. Selanjutnya, Prestasi Dalam Zonasi 10% yaitu Akademik, Non Akademik, Zonasi Kompetitif SHUSBN Kota 15 % dan Perbatasan/Luar Kota, 15 %, yaitu prioritas siswa yang bersekolah di Daerah Kota.

Kebijakan baru ini dianggap lebih baik dibandingkan PPDB tahun lalu. Paling tidak siswa luar kota diberikan kesempatan menikmati pendidikan di kota Cirebon. Calon siswa baru bisa mencoba berbagai jalur masuk. Boleh punya 2 pilihan sekolah tujuan. Adanya jalur SHUSBN memberikan harapan sekolah tetap menjaga mutu kendati prosentasenya masih kecil.

Ke depan kebijakan zonasi PPDB harus diimbangi dengan kebijakan penataan sekolah. Keberadaan sekolah negeri harus terdistribusi ke setiap kecamatan secara proporsional berbanding lurus dengan jumlah penduduk usia sekolah. Sarana prasarana dan penataan guru-gurunya harus diperlakukan sama. Sehingga peta potensi sekolah negeri semuanya sama. Semoga ! (")

*) penulis adalah anggota PGRI Kota Cirebon.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Hehe... Mksh pak...

14 Jun
Balas

Nuhun pa ustadz gupres. Hehe

15 Jun
Balas

Pencerahan hebat. Patutlah wakil kota cirebon dalam gurpres smp

14 Jun
Balas

Tulisan yg bernas dan mantap

14 Jun
Balas

Tulisan yg bernas dan mantap

14 Jun
Balas

Tulisan yg bernas dan mantap

14 Jun
Balas

Tulisan yg bernas dan mantap

14 Jun
Balas

Tulisan yg bernas dan mantap

14 Jun
Balas

Tulisan yg bernas dan mantap

14 Jun
Balas

Tulisan yg bernas dan mantap

14 Jun
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali