Deny Rochman

Deny Rochman bukanlah anak seorang penulis. Era reformasi 1998 telah mengubah talenta hidupnya. Ia mulai banyak menulis di media massa. Aktif di jurnalistik UKI...

Selengkapnya
LAHIR TANPA BAPAK, MASUK RUANG ICU

LAHIR TANPA BAPAK, MASUK RUANG ICU

Minggu sore alat deteksi tekanan darah mulai tampak berubah. Memasuki waktu ashar tensi isteri ajeg diangka 147. Itu memang bukan angka wajar, disebut tensi normal dikisaran 110 atau 120. Namun dibandingan sehari sebelumnya tensi isteri melonjak hingga menembus angka 193. Selanjutnya turun naik kisaran 155 hingga 180.

Membaiknya tensi ternyata tak membuat isteri boleh pulang kampung. "Itu terlalu beresiko. Jika ada apa-apa saya bisa disalahkan," tegas Dokter kandungan Hermawan, SpOG saat mendengar rengekan isteri agar bisa pulang ke rumah karena merasa kondisinya sudah membaik.

Isteri tak boleh pulang, malah dokter bertubuh subur ini membuat pernyataan mengejutkan. Ia akan menjadwalkan hari itu juga dilakukan tindakan operasi caesar pukul 21.00. Tentu saja antara percaya dan tidak. Mengapa? Usia kandungan belum genap 9 bulan sehingga beresiko lahir prematur. Kedua, isteri hanya menjalani tak lebih 2 jam berpuasa tak seperti puasa umumnya sebelum operasi.

Langkah berani dokter pemilik klinik Famina ini memang bukan tanpa perhitungan. Selain senior, dokter Hermawan dikenal berpengalaman untuk urusan bedah membedah pasien melahirkan. Menurutnya, jika isteri tak segera ditindak akan berdampak jauh lebih buruk ketimbang percepat tindakan.

Setelah saya dipanggil empat mata dengan dokter, saya bergegas mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan isteri. Beli pendil ari-ari, pempers dewasa, mengambil pakaian bayi dan sebagainya. Sementara isteri ditinggal bersama perawat. Yah selama ini jika isteri dirawat saya teteg mengurus sendiri.

Jarum jam menunjukan angka 7 malam. Saat bergegas persiapan, saya dikejutkan dengan kehadiran seorang bapak. Ia sudah menghadang saya dipintu kamar. Ternyata ia adalah salah satu warga kampung saya. Maklumlah sudah satu tahun ini saya mendapat mandat sebagai ketua RW. Sejak itu silih berganti warga menemui saya dengan beragam urusan.

Waktu yang limit membuat saya tak panjang lebar melayani keluh kesah warga ini. Pukul 21.00 saya masih dalam perjalanan dari rumah ke rumah sakit. Di ruangan sudah ada dua perawat menyiapkan isteri untuk menjalani operasi. Kasur kereta didorong dari lantai dua menuju lantai satu. Lantai lokasi ruang operasi.

Tak henti-hentinya mulut saya berdzikir agar proses persalinan berjalan lancar, selamat dan sehat. Tak hanya ibunya tetapi juga dede bayinya. Tak lupa gerakan dukungan doa saya galakan ke semua saudara, rekan dan tetangga. Harapannya dengan banyak yang mendoakan akan lebih power full diijabah Sanga Penguasa Alam.

Pukul 22.00 belum juga terlihat pintu ruang operasi terbuka. Selama operasi yang diminta untuk duduk manis diujung kursi yang tak jauh dari ruang operasi.

Sebagai seorang bapak bagi anak dan suami bagi isteri tentu saja satu jam berlalu tanpa kabar membuat perasaan terus dihantui dag dig dug dor. Mereka, ibu dan bayi, lahir tanpa bapak. Karena ditangani langsung oleh dokter kandungan. Sementara saya sebagai bapak suruh menanti diluar.

"Keluarganya ibu Riaya," teriak seorang perempuan berbaju operasi dibalik pintu ruangan. Saya bergegas mendekati perawat tersebut. Ia menjelaskan secara umum hasil operasi. Ibu dan anak dinyatakan selamat dan sehat namun tetap harus menjalani pengawasan intensif. Isteri dibawa ke ruang ICU (Intensive Care Unit), anak ke ruangan NICU (Neonatal Intensive Care Unit)

Bagi orang awam, dua ruangan ini sungguh menakutkan. Ruangan yang sepi pengunjung. Sunyi, sepi. Hanya dipan pasien yang disesaki dengan tabung oksigen dan beragam alat pendeteksi organ tubuh manusia. Jangankan jadi penghuni di dalamnya, mendengarnya saja sudah merinding. Padahal justeru ruangan ini bagaikan dewa penyelamat dari masa kritis pasien.

Sesuai penjelasan tim medis, anak saya lahir pukul 23.03 dengan berat badan 2,7 kg. Anak laki-laki itu secara umum lahir sehat. Namun karena kandungan kurang dari 9 bulan maka perlu ada masa transisi pengenalan organ bayi dengan lingkungan. Begitu juga dengan ibunya, pasca pembedahan perlu ada adaptasi ekosistem.

Tak terasa, duduk di ruang tunggu terdengar adzan subuh. Lantunan yang sama beberapa saat sebelumnya saya bisikkan ketelinga dede bayi diinkubator NICU. Petugas memberitahu bahwa isteri ingin ditunggu saya. Maklum, pasca caesar isteri belum boleh ditemui karena masih belum sadar total. Ternasuk belum sadar jika menjelang subuh kami harus mengosongkan kamar 225 karena isteri pindah kamar di ICU. (PaDE)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali